Jumat, 17 November 2017

Kebijakan dan Sistem Nilai Tukar di Dunia




Kebijakan dan Sistem Nilai Tukar di Dunia



    Pada umumnya, kebijakan nilai tukar suatu negara diarahkan untuk mendukung neraca pembayaran dan/atau membantu efektivitas kebijakan moneter. Penetapan nilai tukar yang overvalue dapat mengakibatkan harga barang-barang ekspor menjadi lebih mahal di luar negeri dan barang-barang impor menjadi lebih murah dan akhirnya neraca perdagangan menjadi memburuk. 

Dalam kaitannya dengan kebijakan moneter, depresiasi nilai tukar yang berlebihan dapat mengakibatkan tingginya laju inflasi sehingga dapat mengganggu tujuan akhir kebijakan moneter untuk memelihara stabilitas harga. Sehubungan dengan hal tersebut, maka kebijakan nilai tukar yang tepat merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pembangunan suatu negara.
Sejalan dengan tujuan kebijakan nilai tukar, maka dikenal berbagai jenis sistem nilai tukar yang digunakan oleh suatu negara khususnya lagi setelah runtuhnya sistem nilai tukar Bretton Woods. Berdasarkan perkembangan terakhir, terdapat kecenderungan negara-negara dunia menggunakan sistem nilai tukar mengambang. 

    Namun, masih terdapat beberapa negara yang menggunakan sistem nilai tukar tetap ataupun variasi dari sistem nilai tukar mengambang dengan sistem nilai tukar tetap. Corden (2002) mengklasifikasikan sistem nilai tukar ke dalam tiga kelompok, yaitu
1) sistem nilai tukar tetap murni (Absolutely fixed rate regime),
2) sistem nilai tukar mengambang murni (Pure floating regime),
3) system nilai tukar tetap tetapi dapat disesuaikan (Fixed But Adjustable Rate/FBAR) yang merupakan kombinasi sistem nilai tukar tetap dan mengambang.


Berikut adalah gambar Sistem Nilai Tukar

Bagian Utama
  • Sistem Nilai Tukar: Sistem atau rezim penentuan nilai mata uang suatu negara.
  • FBAR (Fixed But Adjustable Rate): Sistem nilai tukar tetap tetapi dapat disesuaikan (berada di tengah-tengah spektrum utama).
  • Absolutely fixed rate Regime: Rezim nilai tukar yang benar-benar tetap secara mutlak.
  • Pure floating Regime: Rezim nilai tukar mengambang murni (ditentukan sepenuhnya oleh pasar).
  • In-between: Rezim perantara atau variasi di antara sistem ekstrem tersebut.
Variasi Sistem Perantara (In-between)
  • Currency Board: Dewan Mata Uang (sistem yang mengikat mata uang domestik secara kaku dengan mata uang asing tertentu).
  • Pegged: Sistem nilai tukar yang dipatok (dikaitkan ke mata uang lain).
  • Target Z (band): Target zona/pita intervensi (nilai tukar fluktuatif hanya di dalam batas rentang tertentu).
  • Managed floating: Mengambang terkendali (nilai tukar bergerak bebas namun diintervensi bank sentral saat bergejolak).
Turunan dari Sistem Pegged (Dipatok)
  • Flexible Peg: Patokan fleksibel (penyesuaian nilai patokan dilakukan secara lebih fleksibel).
  • Crawling Peg: Patokan merangkak (penyesuaian nilai patokan dilakukan secara bertahap dalam periode tertentu).

  
Demikianlah gambaran umum tentang sistem nilai tukar di dunia di blog selanjutnya saya akan membahas  tentang definisinya satu-persatu berikut dengan turunannya.

Referensi :
Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan, Bank Indonesia, 2002.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar